Festival Rindu Dumaring 2026 : Satukan Kekuatan Hutan, Sungai, Budaya dan Ekonomi Warga untuk Menjaga Masa Depan Kampung
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Menjaga alam tidak cukup hanya dengan melindungi hutan dan sungai. Di dalamnya ada kehidupan masyarakat, tradisi, pengetahuan lokal, hingga potensi ekonomi yang tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Pesan itulah yang
menjadi semangat dalam Festival Rindu Dumaring 2026 yang dipusatkan berlangsung
di Taman Sungai Dumaring, Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten
Berau. Festival tersebut resmi dimulai melalui Kick Off pada Sabtu (8/8/2026)
dan akan berlangsung 5 September 2026 mendatang.
Lebih dari sekadar
rangkaian kegiatan festival, momentum ini menjadi ruang untuk memperkuat
kolaborasi dalam menjaga kelestarian alam, merawat budaya lokal, sekaligus
membuka peluang pengembangan potensi masyarakat secara berkelanjutan.
Kick Off Festival
Rindu Dumaring 2026 dibuka Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar)
Kabupaten Berau, Yudha Budisantosa. Kegiatan tersebut turut dihadiri Pemerintah
Kecamatan Talisayan, Pemerintah Kampung Dumaring, KPHP Berau Pantai, tokoh masyarakat,
para mitra, pelaku usaha, masyarakat Kampung Dumaring, serta tamu undangan.
Ketua Panitia
Festival Rindu Dumaring 2026, Nana Sumanah, mengatakan kegiatan tersebut
merupakan bagian dari Program Kolaborasi Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring
yang dibangun melalui kerja sama Pemerintah Kampung Dumaring, KPHP Berau
Pantai, dan pihak terkait.
Menurut Nana, program
tersebut memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menjaga kawasan.
Konservasi juga harus mampu berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat
sehingga keberadaan alam dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
“Program ini memiliki
misi untuk melindungi hutan dan sungai, mendorong pemanfaatannya secara
bijaksana dan berkelanjutan, sekaligus membantu masyarakat mengembangkan usaha
yang dapat memberikan manfaat ekonomi hari ini tanpa mengorbankan keberlanjutan
di masa depan,” ujar Nana.
Dumaring memiliki
potensi alam yang cukup besar. Dalam program kolaborasi tersebut, wilayah yang
menjadi bagian dari upaya konservasi meliputi Hutan Desa Dumaring seluas 5.141
hektare, Tanah Patiraja seluas 673 hektare, serta kawasan sempadan sungai
seluas 661 hektare.
Bagi masyarakat,
luasan tersebut bukan sekadar angka. Di balik hamparan kawasan itu terdapat
ekosistem dan kehidupan yang selama ini menjadi bagian dari masyarakat
Dumaring. Karena itu, semakin besar potensi yang dimiliki, semakin besar pula
tanggung jawab untuk menjaganya.
“Luasan ini
menunjukkan besarnya potensi alam yang dimiliki Dumaring sekaligus tanggung
jawab masyarakat dalam menjaganya,” tambah Nana.
Menurutnya, kawasan
tersebut memiliki nilai ekologis sekaligus sosial. Hutan dan sungai telah
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehingga hubungan antara manusia dan
alam tidak dapat dipisahkan begitu saja. Hubungan tersebut pula yang menjadi
alasan mengapa aspek budaya ditempatkan dalam rangkaian program konservasi.
“Yang kita jaga bukan
hanya kawasan hutannya, tetapi juga kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama
alam. Di dalamnya ada pengetahuan, kebiasaan, dan budaya yang diwariskan dari
satu generasi ke generasi berikutnya,” katanya.
Dalam
perkembangannya, Festival Rindu Dumaring tidak hanya diarahkan sebagai ruang
untuk memperkenalkan potensi kampung kepada masyarakat luas. Festival juga
menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Generasi tua memiliki pengalaman,
pengetahuan, dan tradisi yang telah diwariskan selama bertahun-tahun. Sementara
generasi muda memiliki kreativitas dan inovasi yang dapat menjadi kekuatan
untuk mengembangkan warisan tersebut agar tetap relevan di masa depan.
Pertemuan dua
kekuatan tersebut dinilai penting agar budaya lokal tidak berhenti sebagai
cerita masa lalu. Melalui festival, masyarakat diharapkan semakin mengenal
tradisi sekaligus menemukan cara baru untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
kampung.
“Potensi lokal yang
kita miliki juga harus mendapat ruang untuk berkembang,” tuturnya.
Dengan demikian,
pelestarian budaya bukan hanya tentang mempertahankan bentuk tradisi, tetapi
juga memastikan nilai dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap hidup
dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Salah satu pesan
penting yang dibawa Festival Rindu Dumaring 2026 adalah bagaimana pelestarian
lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Nana menegaskan, menjaga alam tidak berarti menutup seluruh peluang masyarakat
untuk berkembang. Sebaliknya, potensi alam dan budaya yang dimiliki harus dapat
dikembangkan secara bijaksana sehingga memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak
sumber kehidupan itu sendiri. Pengembangan usaha berbasis potensi lokal menjadi
salah satu bagian penting dalam upaya tersebut.
Ketika masyarakat
memperoleh manfaat ekonomi dari potensi lokal yang dikelola secara
berkelanjutan, maka upaya menjaga alam sekaligus menjadi bagian dari
kepentingan masyarakat untuk mempertahankan sumber penghidupan mereka. Karena
itu, menurut Nana, budaya, alam, dan ekonomi bukan tiga hal yang harus berjalan
sendiri-sendiri.
“Budaya memberikan
identitas, alam memberikan kehidupan, dan usaha memberikan penghidupan. Karena
itu, ketiganya harus kita bangun secara bersama-sama agar Dumaring dapat
berkembang tanpa kehilangan jati dirinya,” terangnya.
Festival Rindu
Dumaring 2026 yang berlangsung hingga 5 September 2026 di Taman Sungai Dumaring
diharapkan tidak berhenti ketika rangkaian kegiatan festival berakhir.
Semangat yang
dibangun diharapkan terus berlanjut dalam bentuk kolaborasi antara pemerintah,
masyarakat, mitra, dan pelaku usaha. Bagi masyarakat Dumaring, menjaga alam
berarti menjaga sumber kehidupan. Merawat budaya berarti mempertahankan
identitas. Sementara mengembangkan usaha lokal berarti membuka ruang bagi
masyarakat untuk memiliki masa depan ekonomi yang lebih kuat Ketiga hal
tersebut menjadi satu kesatuan yang ingin diperkuat melalui Festival Rindu
Dumaring 2026.
Nana berharap
kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi seluruh pihak
dalam menjaga kelestarian alam, merawat budaya, dan mengembangkan potensi
ekonomi lokal secara berkelanjutan. Ia ingin Festival Rindu Dumaring
meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kemeriahan selama
kegiatan berlangsung.
“Festival ini bukan sekadar pesta. Kami ingin meninggalkan rasa rindu untuk selalu kembali, merawat, dan membangun Dumaring bersama-sama,” tandasnya.
Pesan tersebut
sekaligus menjadi harapan agar Dumaring tidak hanya dikenal karena kekayaan
alam dan budayanya, tetapi juga karena kemampuan masyarakatnya menjaga dan
mengembangkan kekayaan tersebut untuk kehidupan hari ini tanpa mengorbankan
masa depan generasi yang akan datang. (sep/FN)